A visible invisible reality: Augustine's Confessions and Epistle to the Romans 1:18-23
Keywords:
metaphysics, visible and invisibleAbstract
Existence has a metaphysical dimension that informs what we perceive as beautiful, good, and intricately ordered. This impetus of Augustine’s Confessions aligns with Paul’s testimony regarding the invisible realities of God that are revealed in creation. If intelligible formation is present within all things, there is an imperative to recognise the source of this as relevant to our existence. Without such a perceived structure, all evaluations devolve into unlimited relative judgments.The difference between a metaphysical and a non-metaphysical perspective, as read through the prism of Christian faith, is the possibility of either gratitude or folly. This article explores a nexus between Augustine’s Confessions and an aphoristic sequence of Paul’s Epistle to the Romans, and notes the adverse effects of confusing ephemeral, creaturely foci with the eternal, invisible source of all things—a confusion that undermines our true orientation, which Christology, in its gracious revelation, invites us to rediscover.
Keberadaan memiliki dimensi metafisik yang menginformasikan apa yang kita anggap indah, baik, dan diatur secara rumit. Penekanan Pengakuan Agustinus ini sejalan dengan kesaksian Paulus mengenai realitas Allah yang tidak terlihat, dinyatakan melalui ciptaan. Jika struktur yang dapat dipahami hadir di dalam segala sesuatu, maka terdapat keharusan untuk mengenali sumbernya yang berkaitan dengan keberadaan kita. Tanpa struktur yang dipersepsikan demikian, semua evaluasi berubah menjadi penilaian relatif yang tanpa batas. Perbedaan antara perspektif metafisik dan non-metafisik, seperti yang dibaca melalui prisma iman Kristen, adalah potensi munculnya rasa syukur atau kebodohan. Artikel ini mengeksplorasi hubungan antara Pengakuan Agustinus dan deretan aforisme dalam Surat Paulus kepada orang Roma, serta mencatat efek buruk akibat tidak jelasnya titik fokus yang fana dengan kekekalan, sumber dari segala sesuatu yang tidak terlihat—kebingungan yang merusak orientasi sejati dalam penyingkapan Kristologi untuk kita temukan kembali.


